loading...

Wednesday, July 29, 2026

Informatika

```html

Sistem Komputer

Informatika Kelas X • SMAN 1 Godong

SMA Negeri 1 Godong

SISTEM KOMPUTER

Mata Pelajaran: Informatika Kelas X

Hardware • Software • Brainware

Guru Pengampu:

M. Asif Ashari, S.Kom

Wednesday, August 25, 2021

Pengertian Daya Listrik

  


Pengertian Daya Listrik dan Rumus untuk Menghitungnya – Daya Listrik atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Electrical Power adalah jumlah energi yang diserap atau dihasilkan dalam sebuah sirkuit/rangkaian. Sumber Energi seperti Tegangan listrik akan menghasilkan daya listrik sedangkan beban yang terhubung dengannya akan menyerap daya listrik tersebut. Dengan kata lain, Daya listrik adalah tingkat konsumsi energi dalam sebuah sirkuit atau rangkaian listrik. Kita mengambil contoh Lampu Pijar dan Heater (Pemanas), Lampu pijar menyerap daya listrik yang diterimanya dan mengubahnya menjadi cahaya sedangkan Heater mengubah serapan daya listrik tersebut menjadi panas. Semakin tinggi nilai Watt-nya semakin tinggi pula daya listrik yang dikonsumsinya.

Sedangkan berdasarkan konsep usaha, yang dimaksud dengan daya listrik adalah besarnya usaha dalam memindahkan muatan per satuan waktu atau lebih singkatnya adalah Jumlah Energi Listrik yang digunakan tiap detik. Berdasarkan definisi tersebut, perumusan daya listrik adalah seperti dibawah ini :

P = E / t

Dimana :

P = Daya Listrik
E = Energi dengan satuan Joule
t = waktu dengan satuan detik

Dalam rumus perhitungan, Daya Listrik biasanya dilambangkan dengan huruf “P” yang merupakan singkatan dari Power. Sedangkan Satuan Internasional (SI) Daya Listrik adalah Watt yang disingkat dengan W. Watt adalah sama dengan satu joule per detik (Watt = Joule / detik)

Satuan turunan Watt yang sering dijumpai diantaranya adalah seperti dibawah ini :


1 miliWatt  = 0,001 Watt
1 kiloWatt = 1.000 Watt
1 MegaWatt = 1.000.000 Watt

Rumus Daya Listrik

Rumus umum yang digunakan untuk menghitung Daya Listrik dalam sebuah Rangkaian Listrik adalah sebagai berikut  :

P = V x I

Atau

P = I2R
P = V2/R

Dimana :

P = Daya Listrik dengan satuan Watt (W)
V = Tegangan Listrik dengan Satuan Volt (V)
I = Arus Listrik dengan satuan Ampere (A)
R = Hambatan dengan satuan Ohm (Ω)

Contoh-contoh Kasus Perhitungan Daya Listrik

Contoh Kasus I :

Sebuah Televisi LCD memerlukan Tegangan 220V dan Arus Listrik sebesar 1,2A untuk mengaktifkannya. Berapakah Daya Listrik yang dikonsumsinya ?

Penyelesaiannya

Diketahui :

V = 220V
I = 1,2A
P = ?

Jawaban :

P = V x I
P = 220V x 1,2A
P = 264 Watt
Jadi Televisi LCD tersebut akan mengkonsumsi daya listrik sebesar 264 Watt

 

loading...
body

Tuesday, June 23, 2020

Alat Ukur Tinggi Badan dengan Arduino



Pertambahan tinggi badan seorang anak menunjukkan adanya pertumbuhan yang dialami. Untuk mengetahui pertumbuhan tinggi badan, maka diperlukan alat ukur tinggi badan atau biasa disebut stature meter anak. Ada banyak sekali macam alat pengukur tinggi badan oleh karena itu pada kesempatan kali ini saya akan membagikan tutorial membuat alat tinggi badan dengan arduino


A.ALAT DAN BAHAN
   1. Arduino Uno
   2.  Hc-SR04 / Sensor Ultrasonic
   3.  Lcd 16 x 2
   4.  I2c

B. GAMBAR RANGKAIAN

Keterangan
- Sensor Ultrasonic 
   pin Trigger -----> Pin 2 Arduino
   pin Echo     -----> Pin 3 Arduino
   Vcc             -----> 5v Arduino
   Gnd            -----> GND Arduino

- LCD 16 x 2 dan I2c
   pin SDA -----> Pin SDA Arduino
   pin SCL    -----> Pin SCL Arduino
   Vcc             -----> 5v Arduino
   Gnd            -----> GND Arduino


C. SKETCH PROGRAM


#include <Wire.h>
#include <LiquidCrystal_I2C.h>
#define trigPin 2
#define echoPin 3
LiquidCrystal_I2C lcd(0x27 ,16,2);
int jarak = 200;
int tinggi;
void setup() {
  pinMode(trigPin, OUTPUT);
  pinMode(echoPin, INPUT);
  Serial.begin(9600);
  lcd.begin(16,2);
    lcd.setCursor(2,0);
    lcd.print("SISTEM AKTIF");
    delay(1000);
    lcd.clear();
    lcd.setCursor(0,0);
    lcd.print("Tinggi : ");
}
void loop() {
  long duration, gape;
  digitalWrite(trigPin, LOW);
  delayMicroseconds(2);
  digitalWrite(trigPin, HIGH);
  delayMicroseconds(10);
  digitalWrite(trigPin, LOW);
  duration = pulseIn(echoPin, HIGH);
  gape = (duration/2) / 29.0;
  tinggi = jarak - gape;
    lcd.setCursor(8,0);
    lcd.print(tinggi);
    lcd.print(" ");
    lcd.print("CM");
    lcd.print("   ");
}
 


loading...
body

Physical Distancing Menggunakan Arduino




Social distancing merupakan salah satu langkah pencegahan dan pengendalian infeksi virus Corona dengan menganjurkan orang sehat untuk membatasi kunjungan ke tempat ramai dan kontak langsung dengan orang lain. Kini, istilah social distancing sudah diganti dengan physical distancing oleh pemerintah.

Ketika menerapkan social distancing, seseorang tidak diperkenankan untuk berjabat tangan serta menjaga jarak setidaknya 1 meter saat berinteraksi dengan orang lain, terutama dengan orang yang sedang sakit atau berisiko tinggi menderita COVID-19.

Pada Kesempatan kali ini saya akan membagikan tutorial membuat alat menjaga jarak dengan orang lain apabila kita berdekatan dengan jarak kurang dari 60 cm maka alaram akan berbunyi, langsung saja persiapkan alat dan bahan sbb:
 
A. ALAT DAN BAHAN
     1. Arduino Uno
     2. Sensor Ultrasonic / HC-SR04
     3. Buzzer
     4. Kabel Jumper
B. GAMBAR RANGKAIAN
 Keterangan :
- Sensor Ultrasonic
   pin Trigger -----> Pin 11 Arduino
   pin Echo     -----> Pin 12 Arduino
   Vcc             -----> 5v Arduino
   Gnd            -----> GND Arduino

- Buzzer
  Kaki (+)       ----->Pin 4 Arduino
  Kaki (-)        ----->Pin GND Arduino



C. KODE PEMROGRAMAN
int trig = 11;
int echo = 12;
long durasi, jarak;

int pinBuzzer = 4;

void setup() {
  Serial.begin(9600);
  pinMode(trig, OUTPUT);   
  pinMode(echo, INPUT);
  pinMode(pinBuzzer, OUTPUT);       
}

void loop() {
  digitalWrite(trig, LOW);
  delayMicroseconds(8);
  digitalWrite(trig, HIGH);
  delayMicroseconds(8);
  digitalWrite(trig, LOW);
  delayMicroseconds(8);

  durasi = pulseIn(echo, HIGH);
  jarak = (durasi / 2) / 29.1; 
  Serial.print(jarak);
  Serial.println(" cm");

  if(jarak < 60){
    digitalWrite(pinBuzzer, HIGH);
    delay(200);
    digitalWrite(pinBuzzer, LOW);
    delay(200);
    digitalWrite(pinBuzzer, HIGH);
    delay(200);
    digitalWrite(pinBuzzer, LOW);
    delay(1000);
  }else{
    digitalWrite(pinBuzzer, LOW);
  }
}


D. KESIMPULAN
 Ababila Sensor ultrasonic mendeteksi jarak < 60 cm maka Buzzer akan berbunyi
loading...
body

Wednesday, May 27, 2020

coba

loading...
body

Tuesday, May 26, 2020

Cara Menghitung Nilai Resistor Pada LED


Cara Menghitung Nilai Resistor Pada LED
LED atau Light Emitting Diode, adalah salah satu jenis dioda maka LED memiliki dua kutub yaitu anoda dan katoda. Dalam hal ini LED akan menyala bila ada arus listrik mengalir dari anoda menuju katoda.
Pemasangan kutub LED tidak boleh terbalik karena apabila terbalik kutubnya maka LED tersebut tidak akan menyala. LED memiliki karakteristik berbeda-beda menurut warna yang dihasilkan.
Semakin tinggi arus yang mengalir pada LED maka semakin terang pula cahaya yang dihasilkan, namun perlu diperhatikan bahwa besarnya arus yang diperbolehkan adalah 10mA-20mA dan pada tegangan 1,6V – 3,5 V dan tergantung karakter warna yang dihasilkan.
Apabila arus yang mengalir lebih dari 20mA maka LED akan terbakar. Untuk menjaga agar LED tidak terbakar, maka perlu kita gunakan resistor yang berguna sebagai penghambat arus.
Tegangan kerja atau volt atau voltage yang jatuh  pada sebuah LED berbeda-beda, menurut warna yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
§  Infra merah : 1,6 V
§  Merah : 1,8 V – 2,1 V
§  Oranye : 2,2 V
§  Kuning : 2,4 V
§  Hijau : 2,6 V
§  Biru : 3,0 V – 3,5 V
§  Putih : 3,0 – 3,6 V
§  Ultraviolet : 3,5 V
Mengacu data di atas, maka Apabila kita ingin mencari nilai resistor pada LED dapat anda gunakan rumus berikut:
R =(Vs-Vd) / I
Keterangan rumus:
R = Resistor
I  = Arus LED
Vs = Tegangan sumber( bisa battery 12V, atau sumber tegangan lainnya).
Vd = Tegangan kerja LED

A. Contoh Rangkaian LED dari sumber catu daya 12 Volt
Contoh
1. Misal kita mempunyai sebuah LED berwarna merah (tegangan kerja 1,8 Volt) yang akan dinyalakan menggunakan  sumber tegangan 12 Volt DC, maka kita harus mencari nilai resistor yang akan dihubungkan secara seri dengan LED.
Sebelumnya kita mengetahui bahwa arus maksimal yang diperbolehkan melalui LED adalah 20mA. Jadi dari contoh ini dapat diketahui bahwa:
– Tegangan yang digunakan  (Vs) : 12V
– Tegangan kerja LED  (Vd): 1,8V, dan
– Arus LED (I): 20 mili Ampere = 0,02 Ampere (karena 1000 mili Ampere = 1 Ampere).
Maka hambatan pada resistor atau R warna merah adalah sebesar:
R merah untuk 12 volt:
= (Vs-Vd) / I
= (12 volt – 1,8 volt) / 0,02
= 10,2 / 0.02
= 510 ohm

Contoh
2. Dengan cara yang sama  jika LED yang digunakan berwarna biru dan sumber catu daya 12 Volt, maka:
R biru untuk 12 volt:
= (Vs-Vd) / I
= (12 volt – 3 volt) / 0,02
= 9 / 0.02
= 450 ohm
B. Contoh Rangkaian LED dari sumber catu daya 5 Volt
Misal kita mempunyai sebuah LED berwarna merah (tegangan kerja 1,8 Volt) yang akan dinyalakan menggunakan  sumber tegangan 5 Volt DC, maka kita harus mencari nilai resistor yang akan dihubungkan secara seri dengan LED.
Sebelumnya kita mengetahui bahwa arus maksimal yang diperbolehkan melalui LED adalah 20mA. Jadi dari contoh ini dapat diketahui bahwa:
– Tegangan yang digunakan  (Vs) : 5V
– Tegangan kerja LED  (Vd): 1,8V, dan
– Arus LED (I): 20 mili Ampere = 0,02 Ampere (karena 1000 mili Ampere = 1 Ampere).
Maka hambatan pada resistor atau R adalah sebesar:
R = (Vs-Vd) / I
= (5-1,8) / 0,02
= 160 ohm
R merah untuk 5 volt:
= (Vs-Vd) / I
= (5 volt – 1,8 volt) / 0,02
= 3,2 / 0.02
= 160 ohm

Pemasangan LED paralel pada tegangan 12 Volt
Menghitung resistor secara seri :
Jika LED di pasang secara seri maka tegangan kerja LED adalah penjumlahan dari keseluruhan LED yang dipasang seri  tersebut, dalam contoh berikut diperlihatkan tiga buah LED warna kuning yang di pasang seri, jika tegangan sumber masih sama 12V maka maka:
3 buah R kuning untuk 12 volt:
= (12V – (2,4V+2,4V+2,4V)) / 0.02 A
= (12V – 9.6 V) / 0.02 A
= 120 ohm

Pemasangan LED serie pada tegangan 12 Volt
Demikianlah, semoga info ini dapat berguna bagi anda, salam. (sumber: skemarangkaian@blogspot.com)


loading...
body

Monday, May 25, 2020

Smart Plant ( Sistem Penyiraman otomatis Pada Tanaman ) Berbasis IOT

Smart Plant ( Sistem Penyiraman otomatis Pada Tanaman ) Berbasis IOT

Pada kesempatan saya akan berbagai pengalaman bagai mana cara membuat Smart Plant ( Sistem Penyiraman otomatis Pada Tanaman ) Berbasis IOT langsung saja bahan yang digunakan adalah :

1. NodeMcu esp 8266
2. Relay 1 Chanel
3. Sensor Kelembapan
4. LCD 16 x2 dengan I2c
5. Pompa Air 12 V

Gambar Rangkaian :

Kode Program
#define BLYNK_PRINT Serial    
#include <SPI.h>
#include <ESP8266WiFi.h>
#include <BlynkSimpleEsp8266.h>
#include <SimpleTimer.h>
#include <LiquidCrystal_I2C.h>

LiquidCrystal_I2C LCD(0x27,16,2);  //lcd board

int led =2;   //pin 2 pada nodemcupin 4
int pump=0;   //pin 0 pada nodemcupin 3

char auth[] = "rt1UaiOiz2cbCA7n7D3oc_BdtvtKHWOj"; //ISI TOKEN PADA APLIKASI BLYNX ANDROID
char ssid[] = "Wifi Zone";                                   //NAMA HOTSPOT 
char pass[] = "bismillah";                            //PASSWORD HOTSPOT

SimpleTimer timer;
WidgetLCD lcd(V1); //lcd android

void sendSensor()
{                         //lcd to android && LCD to board lcd 
  int POT = analogRead(A0); 
  Serial.print(POT);
  lcd.print(0,0,"KEADAAN");   LCD.setCursor(0,0);LCD.print("ADC");LCD.setCursor(4,0);LCD.print(POT);LCD.print(" ");
  lcd.print(0,1,"PUMP");      LCD.setCursor(0,1);LCD.print("PUMP");
  Blynk.virtualWrite(V0, POT);
  
  if (POT>500){
  Serial.println("KERING");//ke serial monitor
  lcd.print(8,0,"KERING");      LCD.setCursor(9,0);LCD.print("KERING");
  lcd.print(5,1,"ON ");         LCD.setCursor(5,1);LCD.print("ON ");
  digitalWrite(pump,LOW);
  for(int x=0; x<=10; x++){     LCD.setCursor(9,1);LCD.print(x);
  lcd.print(9,1,x);delay(500);}
  lcd.clear();                  LCD.clear();
  digitalWrite(pump,HIGH);
  lcd.print(0,0,"AIR MERESAP"); LCD.setCursor(0,0);LCD.print("AIR MERESAP");
  lcd.print(0,1,"    WAIT");    LCD.setCursor(0,1);LCD.print("    WAIT");
  for(int x=9; x>0; x--){       LCD.setCursor(9,1);LCD.print(x);
  lcd.print(9,1,x);delay(500);}
  lcd.clear();                  LCD.clear();
  }
  
  else if (POT>400&&POT<500){
  Serial.println("NORMAL");
  lcd.print(8,0,"NORMAL");      LCD.setCursor(9,0);LCD.print("NORMAL");
  lcd.print(5,1,"OFF");         LCD.setCursor(5,1);LCD.print("OFF");
  digitalWrite(pump,HIGH);
  }
  
  else if (POT<400){
  Serial.println("BASAH");
  lcd.print(8,0,"BASAH ");      LCD.setCursor(9,0);LCD.print("BASAH ");
  lcd.print(5,1,"OFF");         LCD.setCursor(5,1);LCD.print("OFF");
  digitalWrite(pump,HIGH);
  }
}

void setup()
{
  Serial.begin(9600);
  Blynk.begin(auth, ssid, pass);
  timer.setInterval(1000L, sendSensor);
  pinMode(pump,OUTPUT);
  lcd.clear();
  LCD.init();       
  LCD.backlight();
}

void loop()
{
  Blynk.run();
  timer.run();
  delay(100);
}

Untuk Library nya bisa di download Disini
Untuk Seting Esp8266 Bisa lihat Disini

Seting Aplikasi Blink
untuk Widged yang digunakan adalah
a. LCD
b. Gauge
 - Untuk Setting LCD Inputan di V1

- Untuk Setting Gauge Inputan di A0
- Untuk Copy token berada di Project Settings

Sekian Semoga Bermanfaat




loading...
body